Sabtu, 20 Agustus 2011

PLAGIAT

Edisi minggu ini, tjandrautomo18.blogspot.com akan membahas sesuatu hal tentang Plagiat.
Secara pengertian, Plagiat adalah suatu hal/tindakan yang bersifat menjiplak atau mengambil suatu karangan, pendapat dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapatnya sendiri.
Orang dapat disebut Pagiat jika ternyata terbukti meniru, menjiplak, mengikuti apa yang orang lain kerjakan.
Dan pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.
Topik ini lebih hangat untuk dibahas jika berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia entertainment.
Dan kali ini, tjandrautomo18.blogspot.com, akan membahas tentang Video Klip Indonesia yang mempunyai kemiripan dengan video klip luar.
Berikut ini, 5 Video Klip Indonesia yang “Tertangkap Basah” sama dengan konsep Video Klip Luar :
1. Video Klip Lyla – Detik Terakhir dan Video Klip Katy Perry – Thinking Of You
Kedua video klip ini menceritakan tentang seorang perempuan yang ditinggal pergi oleh kekasihnya karena akan tugas berperang di suatu wilayah. Perempuan itu merindukan saat-saat kebersamaan dengan kekasihnya itu. Dan bayangan ketika bersama kekasihnya pun muncul menghiburnya. Namun pada situasi lain dimana saat Si Pria melaksanakan tugas berperang, ternyata Si Pria tertembak dan meninggal. Kemasan adegan di video klip ini memang tidak semuanya sama. Namun dari segi alur cerita, dapat dipastikan sama.


1.      2. Video Klip Joker – Cinta Sebenarnya dan Video Klip FT Island – Love Love Love
Jika diamati secara seksama, Konsep kedua Video Klip ini sama. Menceritakan tentang sepasang kekasih yang ingin bersatu tapi seakan terhalangi oleh sesuatu yang membuat mereka bagai sebuah boneka yang terikat oleh tali. Dan berkat kesabaran, akhirnya sepasang kekasih tersebut menemukan jalan keluar dan berhasil terbebas dari tali-tali yang mengikatnya. Beberapa adegan di video klip ini dibuat beda. Seperti pada video klip Djoker, cara melepaskan talinya adalah dengan digunting. Sementara pada video klip FT Island, dengan cara dibakar.
 
1.      3. Video Klip Armada – Pemilik Hati dan konsep Video Klip Arev Manoukian – Nuit Blance
Entah siapa sebenarnya Arev Manoukian, yang jelas beberapa adegan yang ada di video klip Armada – Pemilik Hati sama seperti yang ada di video Arev Manoukian. Seperti tertabrak mobil, membentur kaca, dan beberapa property lainnya yang dirasakan sama persis.
 
1.      4. Video Klip The Changcuters – Main Serong dan Video Klip Beasty Boy – Sabotage.
Dari segi adegan, memang tidak sepenuhnya kedua video klip ini sama. Tapi dari segi konsep cerita, dapat diambil kesimpulan bahwa kedua video klip ini sama. Kedua video klip ini bercerita tentang sebuah agen rahasia yang berusaha untuk mengungkap suatu kasus. Ada beberapa hal yang sama dari video klip Main serong dengan Sabotage. Antara lain, Adegan kejar-kejaran, Credit title yang menjelaskan tentang peran-peran yang ada pada video klip tersebut, dan adegan-adegan lain yang sebenarnya sama tapi sebisa mungkin dibedakan.
1.      5. Video Klip Dmasiv – Mohon Ampun Aku dan Video Klip Simple Plan – Untitled (How Could This Happen To Me?)
Dari alur cerita, secara garis besar, kedua video klip ini sama. Dmasiv melesat bak meteor saat meluncurkan album perdananya dengan single andalan “Cinta ini membunuhku”. Sejak kemunculan band yang bernaung di bawah label “Musica” ini, banyak beberapa pihak yang kontroversi. Pasalnya, DMasiv dicap sebagai band yang plagiat karena lagu-lagunya menjiplak penyanyi/band luar. Dan kali ini, sepertinya julukan plagiat harus kembali diterima DMasiv, karena selain Video Klip Mohon Ampun Aku yang mirip dengan Video Klip Simple Plan – How Could This Happen To Me ini, ada beberapa video klip Dmasiv lainnya yang ternyata konsep klipnya sama dengan beberapa band luar lainnya. Antara lain :
- Video Klip Cinta ini membunuhku sama dengan konsep Video Klip Switchfoot – Stars. Keduanya memiliki konsep di dalam air.
- Video Klip Cinta Sampai Disini juga sama dengan konsep Video Klip My Chemical Romance – I don’t Love You
Berikut Persamaan Video Klip Dmasiv - Mohon Ampun Aku dan Simple Plan - Untitled (How Could This Happen To Me?)
 Persamaan Video Klip Dmasiv - Cinta Ini Membunuhku dan Switchfoot - Stars
 Persamaan Video Klip Dmasiv - Cinta Sampai Di


Itulah Lima Video Klip Indonesia yang konsepnya sama dengan Video Klip luar. Semua itu kembali kepada diri kita masing-masing. Ada beberapa pihak yang menganggap bahwa itu semua merupakan terinspirasi dari video klip luar, dan ada pihak lain yang menganggap itu merupakan suatu tindakan meniru/menjiplak. Terserah kalian semua ingin beranggapan apa. Tapi yang jelas, dengan adanya fakta tersebut, maka terbukti bahwa sebagian masyarakat Indonesia kurang mengapresiasikan kemampuan originalnya dan lebih memilih untuk menjadi followers ide dari Negara lain. Memang pada dasarnya, untuk mendapatkan ide itu sangat sulit sekali. Tapi, alangkah lebih baiknya jika kita sadar bahwa kita terlahir diberikan akal dan pikiran serta bakat yang berbeda-beda. Sejelek apapun karya yang dihasilkan, seharusnya kita bisa introspeksi dan terus mengasah kemampuan dari dalam diri kita. Dan kita pun harus bangga. Karena karya itu adalah original dari ide dan pemikiran sendiri. Tanpa harus terinspirasi atau bahkan menjiplak karya orang lain.

Selasa, 09 Agustus 2011

Cerpen "Surprise Dari Ardinta", By Tjandra Utomo


SEBUAH taksi berhenti di dekat sebuah gang. Dari dalam taksi, keluar sosok familiar Aga. Malam ini, terpaksa, Aga naik taksi. Karena motor kesayangannya dipake Papa untuk mengantarkan Mama ke supermarket. Sementara mobil keluarganya, dipake Anggi jalan-jalan bareng Inov. Huh, Aga keduluan. Jadinya ia harus merelakan sebagian uang jajannya dipakai buat bayar ongkos taksi yang lumayan mahal.
Setelah membayar ongkos taksi tanpa nego dengan supirnya, karena jumlah ongkosnya sudah tertera di argo taksi, Aga langsung menyusuri sebuah gang yang lumayan gelap dan sepi.
Tapi Aga merasakan sesuatu yang menyakitkan terlihat di depan matanya. Sebuah pemandangan yang membuatnya marah, kesal, sedih, kecewa, sakit hati, pokoknya semua bercampur jadi satu. Aga hanya bisa berdiri mematung di depan pintu gerbang sebuah kost-an.
Aga benar-benar tidak percaya dengan semua yang ia lihat. Aga berusaha memastikan kalau yang ia lihat itu adalah nyata. Adalah fakta. Dan adalah benar-benar Ardinta. Aga melihat di depan pintu masuk kost-an Harum, yang memang sebuah kost-an yang ditempati Ardinta, Ardinta sedang bersama dengan seorang laki-laki yang seperti sudah berumuran.
Aga mencoba meyakinkan dirinya kalau laki-laki itu adalah Ayahnya Ardinta, Omnya Ardinta, atau kakaknya Ardinta. Tapi Aga tidak percaya dengan itu semua. Karena Aga melihat dengan mata kepalanya sendiri, Ardinta berciuman dengan laki-laki itu. Memang sesuatu yang tidak wajar antara laki-laki dan perempuan. Karena Ardinta dan laki-laki itu ciuman bibir.
Aga dapat melihat dengan begitu jelas adegan itu. Bahkan lebih jelas dari ia melihat adegan ciuman Dian Sastro dan Nicholas Saputra di film Ada Apa Dengan Cinta maupun adegan ciuman antara Shandy Aulia dan Samuel Rizal di film Eiffel I’m In Love.
Tapi adegan ciuman Ardinta dan laki-laki yang entah dari mana asalnya terasa begitu menusuk hati dan jantung bahkan sampai ke ubun-ubun Aga. Walaupun tidak begitu lama, tetap saja Aga tidak rela karena itu adalah Ardinta. Yang jelas-jelas masih berstatus pacarnya Aga.
Tidak sengaja, Ardinta memergoki Aga yang berdiri mematung tidak jauh dari sana. Melihat Ardinta yang terkejut, Aga langsung menatap dalam ke arah Ardinta seakan mengekspresikan rasa kecewa dan langsung berlalu. Ardinta hanya bisa menatap kepergian Aga dalam pelukan laki-laki lain.
☺☺☺
“GUE tahu gue berengsek! Tapi kenapa di saat gue sadar dan mencoba untuk memperbaiki itu semua, dia malah nyakitin gue!” Aga mengeluarkan semua unek-uneknya di hadapan cermin besar yang ada di kamarnya.
“Apa ini karma karena gue udah nyakitin Shifa dan Sisil? Kenapa harus ada balesan pada setiap perbuatan salah yang udah dilakukan?! Apa dengan rasa menyesal saja gak cukup buat bales semua kelakuan gue?! Gue sadar, ternyata gini rasanya sakit hati! Ternyata gini rasanya dikhianati!”
Tiba-tiba pintu Aga digedor-gedor. Terdengar suara Anggi dari luar kamar Aga. “Kak Aga lagi ngapain sih ribut banget?! Kak Aga baik-baik aja kan?!”
Tanpa membuka pintu kamar, Aga menyahut. “Gue baik-baik aja, kok! Udah sana lo tidur aja!”
Suara Anggi pun menghilang. Aga kembali menatap wajahnya di cermin. Kemudian ia tersenyum.
“Apa-apaan sih gue, cemen banget! Gak ada dalam kamus gue cewek nyakitin gue!” Aga lalu mengambil Hpnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Ia memainkan jarinya untuk mencari sebuah nama dan nomor telpon. Setelah ketemu, Aga lalu mengkliknya dan meletakkan Hpnya lebih dekat ke arah telinga.
“Hallo, Sandra?! Besok bisa ketemu gak?”
...
☺☺☺

Cerpen "Maaf buat Doni", By Tjandra Utomo

GISSA menatap wajahnya dicermin. Dengan pernak-pernik anting yang menggantung di kedua telinga dan kalung yang melingkar di lehernya, ia tampak cantik sekali. Pancarannya sangat berbeda. Jauh lebih cantik dari sebelum-sebelumnya. Pakaian yang ia kenakan pun adalah pakaian yang menurutnya the best dari semua pakaian yang menumpuk di lemari bajunya.
Gissa rasa ia gak perlu beli baju baru untuk bisa tampil perfect dihadapan Doni malam ini. Tepat di hari ini, usia hubungan Gissa dan Doni menginjak delapan bulan. Bukan suatu perayaan yang spesial memang. Tapi Gissa menganggap hal ini perlu ada sedikit sentuhan surprise. Biar romantis. Gak mesti cowok doang kan yang bisa romantis sama pasangannya?
Gissa mengambil kado yang ia beli siang tadi di Mall. Sebuah hadiah yang tidak terlalu mahal memang untuk kapasitas hubungan kalangan anak SMA. Sebuah topi yang bersembunyi di sebuah kotak yang terbungkus kado dan berpita. Dengan sebuah kertas yang sengaja ditempel dengan lem bertuliskan ‘To My Spesial Person : Doni’.
Jarang ada orang yang merayakan tanggal jadian tiap bulan. Karena pada dasarnya, tanggal spesial itu hanya dirayakan setahun sekali. Seperti valentine days yang jatuh pada tanggal 14 februari, seperti hari ulang tahun yang hanya sekali dalam setahun, lalu juga tahun baru, hari kemerdekaan tanggal 17 agustus, dan tanggal-tanggal lainnya yang perlu dan biasanya dirayakan setiap setahun sekali.
Tapi enggak buat Gissa. Menurutnya, tanggal delapan adalah tanggal yang sangat spesial buat hubungannya dengan Doni. Yang pasti tanggal 8 selalu ada tiap bulan. Dan kali ini, lengkap sudah di tanggal delapan oktober, kebersamaan antara Gissa dan Doni sudah terjalin selama delapan bulan. Sebuah kurun waktu yang lumayan lama untuk orang yang berstatus pelajar SMA.
Gissa menatap jam tangannya. Sebelum kemalaman, dengan segera Gissa bergegas untuk pergi ke rumah Doni. Tentunya dengan maksud memberi surprise yang mungkin bisa membuat Doni tertunduk malu karena kali ini, Doni lupa dengan tanggal ini. Tapi walaupun begitu, Gissa memaklumi kekhilafan Doni. Nobody perfect. Manusia kan gak luput dari kesalahan. Lagian, selama pacaran sama Doni, gak banyak kok kesalahan yang Doni lakuin. Malah lebih banyak so sweet nya dibandingkan ngeselinnya. Pikir Gissa.

***

“ADUUH Non, Den Doni baru saja pergi!” ujar Bi Miyem saat Gissa sampai di rumah Doni.
Wajah Gissa yang awalnya ceria berubah menjadi cemberut. “Doni, rese! Hari ini kan harusnya gue seneng-seneng ngerayain tanggal 8. Tapi Doni malah pergi!” pikir Gissa kesal.
“Doni pergi kemana, Bi?!”
“Sama siapa?!”
“Lama gak yah?!”
Walaupun banyak pertanyaan yang diajukan oleh Gissa. Tetap saja semua pertanyaan itu hanya dijawab oleh Bi Miyem dengan kalimat. “Aduuh.. saya ndak tahu, Non!” Hmm... sungguh bukan jawaban yang diharapkan. Gissa terpaksa harus menunggu Doni. Walaupun Bi Miyem menawarkan untuk menunggu Doni di dalam rumah, tapi Gissa lebih memilih untuk menunggu Doni di teras. Biar lebih cepat menjewer Doni bila Doni datang kehadapannya.
Gissa lalu mengeluarkan Hpnya yang bersembunyi di dalam tasnya. Tidak diragukan lagi, Gissa pasti akan menelpon Doni.
“Hallo, Doni! Kamu dimana sih, aku ada di rumah kamu nih!” gerutu Gissa, “Apa ada di puncak? Kok bisa? Lagi ngapain? Sama siapa? Kamu ini gimana sih... hari ini kan tanggal delapan. Tanggal jadian kita! Jangan bilang kamu lupa!”
“Aduuuhh... maaf! Aku bener-bener lupa!” suara Doni di dalam telpon. “Eh, udah dulu yah. Gak enak sama temen-temen yang lain! Soalnya ini acara aku sama temen aku. Nanti aku telpon kamu!”
“Doni tunggu dulu, hallo... Don...!” hanya suara tuuut... tuuuut... yang Gissa dengar. Mata Gissa berkaca-kaca. Ia coba telpon Doni lagi. Tapi di reject terus. Hingga akhirnya suara operator yang mengatakan kalau Hp Doni tidak aktif.
“Rese, pasti Doni sengaja deh matiin Hpnya! Aduuuhh... kok Doni jadi gini sih!” Gissa lalu memainkan Hpnya untuk menelpon Maya.

***

“GUE sakit hati banget. Gak biasanya Doni kayak gini! Dia lebih mentingin acara bareng temen-temennya dibandingin gue. Hikh... hikh!!” Gissa mengelap-elap wajahnya dengan tisu untuk menghapus air matanya. Di sampingnya, Maya dan Vanissa berusaha meredakan tangisan Gissa.
“Udah donk, Gis! Jangan nangis!” hibur Maya.
“Gak bisa. Lo gak bisa ngelarang gue buat enggak nangis!” timbal Gissa.
“Bukan githu, Gis...”
Belum selesai Maya bicara Gissa memotong. “Apa salah kalau gue sakit hati? Apa salah kalau gue nangis? Lo semua gak ngerti perasaan gue sih!”
“Gue ngerti. Tapi...”
“Tapi apa? Jawab May?!”
“Tapi lo jangan ngehabisin tisu gue donk. Lihat tuh kamar gue jadi kotor!” ujar Maya. “Nangis sih nangis. Tapi jangan bebanin pekerjaan tambahan buat gue donk. Habis deh, waktu liburan gue besok cuma buat sapuin tisu bekas lo!”
Mendengar hal itu, Gissa hanya bisa nyengir. “Tenang aja. Ntar gue sama Vanissa bantuin beresin!”
“Lho, kok gue dibawa-bawa! Ogah banget gue mesti ikutan beresin. Di rumah aja gue gak pernah beresin kamar!” Protes Vanissa.
“Gue juga gak mau yah bantuin beresin bekas ingus lo!” Maya kemudian.
“Kok githu sih... masa gue sendirian yang beresin. Gimana sih kalian. Bukannya ngehibur gue, malah nambah beban ke gue!”

***

“GISSA, tunggu!” Langkah kaki Gissa semakin cepat saat Doni mengejarnya.
“Lepasin...!” Gissa berusaha berontak ketika Doni berhasil meraih tangannya.
“Gis, aku minta maaf! Kamu jangan kayak gini donk!”
Gissa menghentikan teriakannya. Dihadapannya, Doni menatap Gissa. Dengan segera, Gissa buang muka dan langsung mengalihkan pandangan pada area lapangan. Karena kebetulan, mereka ada di lantai dua di sekolah.
“Gis, aku tahu aku salah banget. Karena aku udah lupa sama tanggal jadian kita. Tapi apa kamu bakal marah terus cuma karena masalah sepele kayak gini?!”
Mendengar hal itu, Gissa semakin emosi. “Siapa bilang ini masalah sepele? Don, aku gak masalahin kamu lupa sama tanggal jadian kita. Tapi aku marah bukan karena itu! Aku marah karena kamu udah gak menghargai aku?!”
“Aku gak menghargai kamu apa? Udah lah Gis, kamu jangan terlalu mendramatisir. Kita bukan lagi main sinetron. Jadi gak perlu lah kamu perpanjangin masalah sepele kayak gini.”
Gissa menatap mata Doni dalam-dalam. “Don, kenapa sih kamu jadi kayak gini? Aku bisa ngerti kok kalau kamu juga punya temen dan saat itu kamu lagi bareng temen. Tapi itu bukan alesan kamu buat ngereject panggilan aku. Itu bukan alesan juga buat kamu matiin Hp kamu!”
“Gis, maafin aku. Sekali lagi aku minta maaf. Aku bukannya gak menghargai kamu. Tapi aku gak enak sama temen-temen aku yang lainnya. Dari rumah, kita semua udah diniatin untuk gak ada komunikasi sama pacar masing-masing. Pacarnya temen-temen aku bisa ngerti semua kok. Tapi kenapa kamu enggak? Jadi sekarang terserah kamu. Kamu gak mau maafin aku atau kamu mau diemin aku terus, yang jelas aku sayang banget sama kamu.”
Ini nih, kalimat terakhir yang diutarakan Doni gak mampu buat Gissa untuk terus tetap marah. Gissa menatap Doni lekat. Ia hapus kemarahan yang menempel di dalam hati. “Iya deh aku maafin. Tapi kamu jangan ulangin lagi, yah?!”

***


Selasa, 01 Maret 2011

Rubrik Obrolan, "Hidungku Mancung Atau Tidak?"

Coba kalian bercermin. Perhatikan setiap lekuk wajah kalian. Mana yang paling menonjol di antara anggota wajah yang lainnya?! Saya yakin, 8 dari 10 orang yang membaca tulisan ini setuju kalau hidunglah dari anggota wajah lainnya yang paling diharapkan memiliki bentuk yang indah.

Dan setiap keluarga yang baru dikaruniai bayi, pasti memiliki harapan agar hidung bayi yang lahir adalah mancung. Dan setelah bayi tersebut lahir, pasti sebagian keluarga langsung melihat apakah bayinya berhidung mancung atau tidak.

Mungkin buat yang hidungnya gak mancung, saat membaca tulisan ini langsung pada mencibir dan merasa kesal. Mungkin juga sebagian dari kalian ada yang berhenti membaca dan mencoba mencari tulisan yang lebih menarik ketimbang ngebicarain seputar hidung.

Tapi buat yang udah tanggung baca, sebagai saran sih mendingan kalian terusin baca tulisan ini sampai habis. Karena siapa tahu disini ada beberapa tips yang bisa kalian dapatkan tentang bagaimana cara mengantisipasi agar hidung kalian bisa terlihat mancung. Tapi sayangnya, saya gak bisa bantu untuk hal yang satu itu.

Dan buat yang hidungnya udah mancung, jangan ngerasa di atas angin dulu, karena ternyata setelah diselidiki dan diamati, menariknya wajah seseorang itu tidak harus terpaku pada hidung semata. Gak percaya, lihat saja di layar kaca, banyak kok selebritis-selebritis kita yang memiliki hidung yang besar tapi masih terlihat mempesona untuk dilihat. Dan banyak orang yang hidungnya besar, hokinya juga besar. Sebut saja Andrew White. Berkat hidungnya yang besar, orang-orang jadi mengenalinya, bukan?! Bahkan dia sendiri juga pernah bilang kalau hidungnya yang besar itu membawa hoki buat dirinya pribadi. Dampak positif yang ia dapat adalah banyaknya tawaran kerja dari berbagai sudut.

Contoh nyata dari seleb lainnya adalah Afgan. Doi juga hoki kan di dunia musik. Berbagai penghargaan banyak ia raih. Lalu juga Tria The Changcuters. Doi juga hoki kan bisa maen film dan bandnya digemari banyak kalangan. Lalu juga Angga, vokalisnya Maliq And The Essentials, Chicco jerikho, Reza Rahadian, pokoknya banyak banget deh seleb-seleb yang hidungnya rata-rata besar, tapi tidak mengurangi pesona mereka. Mulai ngeuh kan, kalu ternyata kesempatan buat jadi bintang gak cuma buat yang hidungnya mancung doank?! Saya rasa, asal kita punya kemampuan, toh mau mancung atau enggak, besar atau kecil, selagi kita berusaha, kita pasti bisa.

Intinya, buat kalian yang hidungnya gak mancung, jangan berkecil hati apalagi minder deh. Bahwa gak semua yang hidungnya mancung itu bagus, dan gak semua juga yang hidungnya gak mancung itu jelek. Pokoknya mau mancung atau enggak hidung kita, mau besar atau kecil, kita harus tetap bersyukur. Jadi, mulai dari sekarang harus banyak bersyukur, yah?!


SEKIAN

Novel Mini "Rahasia Yang Terungkap, By Tjandra Utomo

SORE pukul 15.00 WIB, sebuah mobil milik Maya berhenti di depan rumah Gissa. Dari dalam mobil, keluar Maya dan Vanissa berjalan menghampiri Gissa yang berdiri di teras rumahnya seakan menyambut kedatangan teman-temannya. Ketidakhadiran Alena membuat gank itu terasa kurang. Seperti ada satu nyawa yang hilang. Tapi hal itu tidak membuat Gissa, Maya, dan Vanissa kehilangan kekompakannya.

Di dalam kamar Gissa, tiga cewek itu terdengar ribut. Hal itu tergambar jelas dengan sikap Bi Minah yang selalu menggelengkan kepalanya saat melewati kamar Gissa.

“Eh, dance ala kita itu gimana sih?!” Vanissa memulai.

Lalu mereka berdiri dan membuat posisi agar gerakan yang mereka ciptakan terlihat indah.

“Bukan githu, May! Badan lo harus sedikit lentur!” Gissa berkomentar.

Maya berusaha merubah gerakannya yang menurut Gissa salah. Beberapa gerakan sudah mereka lakukan. Tiba-tiba saja, mereka berhenti karena kehilangan gerakan.

“Duh, gue lupa! Gimana sih gerakan udah gini tuh?” Gissa bertanya.

“Gue juga lupa!” Vanissa tidak tahu.

“Alena tuh yang tahu gerakannya!” kata Maya.

Mereka pun berhenti dan menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur Gissa. Di atas tempat tidur, mereka menatap langit-langit rumah.

“May, Van! Akhir-akhir ini gue ngerasa Doni udah gak perhatian deh sama gue!” ujar Gissa.

“Ah, itu mungkin cuma perasaan lo aja kali!” kata Maya.

“Iya kali! Mungkin cuma perasaan gue aja!” kata Gissa lagi.

“Eh, bete nih! Kita ke Mall yuk?” Vanissa usul.


***


GISSA, Maya, dan Vanissa akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan di Mall. Tiga cewek ABG ini berjalan mengelilingi Mall. Mereka juga sempat mampir ke sebuah toko baju yang terpampang tulisan ‘Sale’. Dan seperti biasa, mumpung ada diskon mereka pun mengubek-ubek toko baju tersebut dengan hebohnya.

“Sekarang kita mau kemana, nih?!” tanya Vanissa. Masing-masing menjinjing kantong belanjaan.

“Makan dulu, yuk? Gue laper nih?!” Gissa mengelus-elus perutnya.

Lalu mereka berjalan menuju Food Court. Tapi tiba-tiba saja Maya menghentikan kakinya. Ia terkejut dengan apa yang telah ia lihat. Ia benar-benar tidak menyangka. Maya memastikan semua yang telah ia lihat. Dan ternyata memang ia tidak salah lihat. Maya tidak bisa berkata apa-apa. Tepat pada satu lantai di bawah Vanissa, Gissa, dan Maya berada, Maya melihat orang yang sangat ia kenal. Gissa dan Vanissa menghentikan kakinya. Mereka lalu menoleh ke belakang. Di lihatnya Maya berdiri menatap ke lantai bawah. Maya sudah tertinggal sedikit jauh dari langkah Gissa dan Vanissa.

“May, Kenapa lo?” Gissa memanggil.

Maya tersadar. Dan segera menyusul Gissa dan Vanissa. “Em... enggak... enggak!” Maya terlihat gugup. “Eh, kayaknya hari ini nyokap gue masak enak, deh! kita ke rumah gue aja, yuk!”

“Boleh, tuh! Lumayan biar uang jajan gue irit!” celetuk Vanissa. Maya pun segera membawa Gissa dan Vanissa pergi keluar dari Mall.


***


KEESOKAN harinya di kantin sekolah.

“Maya sama Alena kemana, sih?” tanya Vanissa.

Gissa celingak-celinguk mengamati sekeliling kantin karena siapa tahu Maya dan Alena ada di sana.

Tidak lama kemudian, Maya datang. Penampilannya terlihat tidak rapi. Dan wajahnya sedikit berkeringat.

“Kenapa lo, May? Kucel amat!” celetuk Vanissa.

“Oh, yah? Masa sih!” Maya meminjam cermin kecil kepunyaan Vanissa dan mulai membenahi penampilannya.

“Alena kemana, yah?” tanya Gissa.

“Tau tuh. Dari tadi juga gue gak lihat!” ujar Maya sambil merapikan rambutnya.

Tiba-tiba Hp Gissa berbunyi. Ringtone sms. Gissa mulai membacanya.


Gis, rok gw robek, nih! Tlg izinin ke gr piket, y? Gw plg lbh awal. Gw g smpt izn.


Tidak lama setelah membaca sms dari Alena, Gissa langsung membalas dengan satu kata yaitu ‘siiip...’ Setelah itu menceritakan semuanya kepada teman-temannya.


***


GISSA mulai menghitung jumlah teman-temannya ketika sedang mengumpul di kamar Gissa. Hanya ada dia dan Maya. Vanissa tidak bisa datang karena mendadak harus ke jakarta bersama semua keluarganya lantaran kakeknya sakit. Sementara Alena, lagi-lagi Alena gak ada tanpa keterangan. Dan gak lama kemudian, terdengar ketukan pintu dan terlihatlah sosok cewek yang dari tadi dipertanyakan. Yap, Alena datang terlambat.

“Sorry, gue telat!” ujar Alena sambil nyengir. Gak lama kemudian, terdengar suara ringthone HP milik Alena. Dengan cepat Alena memisahkan diri dari dua orang temannya untuk mengangkat telpon tersebut. Sepertinya penting. Tapi sepenting-pentingnya, Alena gak seperti itu. Biasanya langsung mengangkatnya walaupun dihadapannya ada teman-temannya.

“Eh, lo ngerasa ada yang beda gak sama Alena?” Gissa menanyakan keganjilan sikap Alena kepada Maya.

Maya menanggapi kecurigaan Gissa itu dengan kalimat yang ternyata berbanding terbalik dengan pemikiran Gissa. “Iya, Handphone-nya baru! Iya... bener, bener!”

Gissa hanya bisa geleng-geleng mendengar ucapan Maya. “Bukan itu, kayaknya ada yang beda deh sama sikap Alena! Lo ngerasain itu gak?!”

Maya menjatuhkan pantatnya ke atas tempat tidur. Kemudian menghela nafas panjang dan berkata, “Sebenernya gak ada yang beda kok sama Alena, dia cuma... cuma... lagi jatuh cinta aja. Alena sudah punya pacar, Gis!”

Gissa mengamati Alena yang sibuk bertelpon ria dengan orang misterius dari kejauhan. Gissa menyunggingkan senyum. Hmm... akhirnya Alena punya pacar juga. Gissa jadi penasaran dengan sosok cowok yang berhasil mengambil hati Alena yang super duper pemilih dalam hal mencari pacar. Gissa tahu sendiri watak Alena yang gak sembarangan milih cowok. Harus ganteng lah, harus tajir lah, harus ini... harus itu... fiuuuuuhhh... pokoknya banyak syaratnya deh.

Dulu saja, ada beberapa cowok yang mendekati Alena tapi gak sampai berstatus pacaran. Di antaranya, Riko yang padahal menurut Gissa, Riko cukup pantas pacaran sama Alena. Tapi Alena keburu nge-black list karena ternyata Riko anak mami. Terus ada Rendru yang berwajah ganteng. Lagi-lagi dieliminasi. Padahal kurang apa coba? Tinggi, putih, tajir. Cuma lantaran sesuatu yang bikin Alena il-feel. “Ternyata setelah diperhatiin, hidung Rendrew gede banget deh!” ujar Alena. Padahalkan, gak ada manusia yang sempurna.

Kayak Doni. Gissa mencintai Doni dengan semua kelebihan dan kekurangan Doni. Tapi dibalik itu semua, sampai saat ini Gissa masih belum menemukan kekurangan yang dimiliki Doni. Karena buat Gissa, Doni itu adalah tipe cowok idaman cewek-cewek. Doni yang baik, Doni yang ganteng, Doni yang perhatian, Doni yang romantis, Doni yang setia, pokoknya Doni... Doni... Doni...

Gissa tersadar dari lamunan tentang Doni dan Doni-nya. Di hadapan wajahnya, sebuah tangan mengibas-ibas.

“Hellooow... kenapa bengong?!” ucapan Alena mengejutkan Gissa. Gissa baru sadar kalau ternyata Alena sudah selesai bertelpon-ria.

Gissa memandang diam ke arah Alena. Gissa hanya bisa menatap dan memperhatikan raut wajah Alena yang dipenuhi dengan cinta.

“Gis, lo kenapa?” Alena bertanya sekali lagi. Tapi Gissa tidak menjawabnya.

Gissa mendekat ke arah Alena. Dan menatap setiap lekukan wajah Alena yang mencerminkan ketidakmengertian akan sikap Gissa.

“Len, kok lo tega sih sama gue?!” sebuah kalimat meluncur di bibir Gissa.

Alena semakin tidak mengerti maksud pembicaraan Gissa.

“Kok lo tega banget sih sama gue. Lo udah punya cowok kan?”

Mendengar hal itu, Alena menatap Maya. “May, lo ngasih tau Gissa, yah?” Maya manggut-manggut.

Wajah Gissa terlihat serius. Sementara Alena menjadi tegang seakan mendapat introgasi dari pihak aparat keamanan.

Gissa lalu tersenyum. “Lo jadian sama siapa? Kok lo curang sih, Maya lo kasih tahu. Sementara gue enggak! Kenalin dong sama gue...”

Alena membuang nafas dan mengelus dada. Wajahnya yang semula tegang berubah menjadi biasa. Melihat Gissa yang penasaran, Alena pun menceritakan sedikit ciri-ciri pacarnya yang sekarang.

“Pokoknya dia tipe cowok idaman gue. Gue sayaaaaangg... banget sama dia. Pokoknya, kalau saatnya udah tepat, gue bakal kasih tahu lo!”

“Idiiihh... kayak ke siapa aja pake rahasia-rahasiaan segala. Sok selebritis banget deh lo!” gerutu Gissa sebal.


***


GISSA menatap wajahnya dicermin. Dengan pernak-pernik anting yang menggantung di kedua telinga dan kalung yang melingkar di lehernya, ia tampak cantik sekali. Pancarannya sangat berbeda. Jauh lebih cantik dari sebelum-sebelumnya. Pakaian yang ia kenakan pun adalah pakaian yang menurutnya the best dari semua pakaian yang menumpuk di lemari bajunya.

Gissa rasa ia gak perlu beli baju baru untuk bisa tampil perfect dihadapan Doni malam ini. Tepat di hari ini, usia hubungan Gissa dan Doni menginjak delapan bulan. Bukan suatu perayaan yang spesial memang. Tapi Gissa menganggap hal ini perlu ada sedikit sentuhan surprise. Biar romantis. Gak mesti cowok doang kan yang bisa romantis sama pasangannya?

Gissa mengambil kado yang ia beli siang tadi di Mall. Sebuah hadiah yang tidak terlalu mahal memang untuk kapasitas hubungan kalangan anak SMA. Sebuah topi yang bersembunyi di sebuah kotak yang terbungkus kado dan berpita. Dengan sebuah kertas yang sengaja ditempel dengan lem bertuliskan ‘To My Spesial Person : Doni’.

Jarang ada orang yang merayakan tanggal jadian tiap bulan. Karena pada dasarnya, tanggal spesial itu hanya dirayakan setahun sekali. Seperti valentine days yang jatuh pada tanggal 14 februari, seperti hari ulang tahun yang hanya sekali dalam setahun, lalu juga tahun baru, hari kemerdekaan tanggal 17 agustus, dan tanggal-tanggal lainnya yang perlu dan biasanya dirayakan setiap setahun sekali.

Tapi enggak buat Gissa. Menurutnya, tanggal delapan adalah tanggal yang sangat spesial buat hubungannya dengan Doni. Yang pasti tanggal 8 selalu ada tiap bulan. Dan kali ini, lengkap sudah di tanggal delapan oktober, kebersamaan antara Gissa dan Doni sudah terjalin selama delapan bulan. Sebuah kurun waktu yang lumayan lama untuk orang yang berstatus pelajar SMA.

Gissa menatap jam tangannya. Sebelum kemalaman, dengan segera Gissa bergegas untuk pergi ke rumah Doni. Tentunya dengan maksud memberi surprise yang mungkin bisa membuat Doni tertunduk malu karena kali ini, Doni lupa dengan tanggal ini. Tapi walaupun begitu, Gissa memaklumi kekhilafan Doni. Nobody perfect. Manusia kan gak luput dari kesalahan. Lagian, selama pacaran sama Doni, gak banyak kok kesalahan yang Doni lakuin. Malah lebih banyak so sweet nya dibandingkan ngeselinnya. Pikir Gissa.


***


“ADUUH Non, Den Doni baru saja pergi!” ujar Bi Miyem saat Gissa sampai di rumah Doni.

Wajah Gissa yang awalnya ceria berubah menjadi cemberut. “Doni, rese! Hari ini kan harusnya gue seneng-seneng ngerayain tanggal 8. Tapi Doni malah pergi!” pikir Gissa kesal.

“Doni pergi kemana, Bi?!”

“Sama siapa?!”

“Lama gak yah?!”

Walaupun banyak pertanyaan yang diajukan oleh Gissa. Tetap saja semua pertanyaan itu hanya dijawab oleh Bi Miyem dengan kalimat. “Aduuh.. saya ndak tahu, Non!” Hmm... sungguh bukan jawaban yang diharapkan. Gissa terpaksa harus menunggu Doni. Walaupun Bi Miyem menawarkan untuk menunggu Doni di dalam rumah, tapi Gissa lebih memilih untuk menunggu Doni di teras. Biar lebih cepat menjewer Doni bila Doni datang kehadapannya.

Gissa lalu mengeluarkan Hpnya yang bersembunyi di dalam tasnya. Tidak diragukan lagi, Gissa pasti akan menelpon Doni.

“Hallo, Doni! Kamu dimana sih, aku ada di rumah kamu nih!” gerutu Gissa, “Apa ada di puncak? Kok bisa? Lagi ngapain? Sama siapa? Kamu ini gimana sih... hari ini kan tanggal delapan. Tanggal jadian kita! Jangan bilang kamu lupa!”

“Aduuuhh... maaf! Aku bener-bener lupa!” suara Doni di dalam telpon. “Eh, udah dulu yah. Gak enak sama temen-temen yang lain! Soalnya ini acara aku sama temen aku. Nanti aku telpon kamu!”

“Doni tunggu dulu, hallo... Don...!” hanya suara tuuut... tuuuut... yang Gissa dengar. Mata Gissa berkaca-kaca. Ia coba telpon Doni lagi. Tapi di reject terus. Hingga akhirnya suara operator yang mengatakan kalau Hp Doni tidak aktif.

“Rese, pasti Doni sengaja deh matiin Hpnya! Aduuuhh... kok Doni jadi gini sih!” Gissa lalu memainkan Hpnya untuk menelpon Maya.


***


“GUE sakit hati banget. Gak biasanya Doni kayak gini! Dia lebih mentingin acara bareng temen-temennya dibandingin gue. Hikh... hikh!!” Gissa mengelap-elap wajahnya dengan tisu untuk menghapus air matanya. Di sampingnya, Maya dan Vanissa berusaha meredakan tangisan Gissa.

“Udah donk, Gis! Jangan nangis!” hibur Maya.

“Gak bisa. Lo gak bisa ngelarang gue buat enggak nangis!” timbal Gissa.

“Bukan githu, Gis...”

Belum selesai Maya bicara Gissa memotong. “Apa salah kalau gue sakit hati? Apa salah kalau gue nangis? Lo semua gak ngerti perasaan gue sih!”

“Gue ngerti. Tapi...”

“Tapi apa? Jawab May?!”

“Tapi lo jangan ngehabisin tisu gue donk. Lihat tuh kamar gue jadi kotor!” ujar Maya. “Nangis sih nangis. Tapi jangan bebanin pekerjaan tambahan buat gue donk. Habis deh, waktu liburan gue besok cuma buat sapuin tisu bekas lo!”

Mendengar hal itu, Gissa hanya bisa nyengir. “Tenang aja. Ntar gue sama Vanissa bantuin beresin!”

“Lho, kok gue dibawa-bawa! Ogah banget gue mesti ikutan beresin. Di rumah aja gue gak pernah beresin kamar!” Protes Vanissa.

“Gue juga gak mau yah bantuin beresin bekas ingus lo!” Maya kemudian.

“Kok githu sih... masa gue sendirian yang beresin. Gimana sih kalian. Bukannya ngehibur gue, malah nambah beban ke gue!”


***


“GISSA, tunggu!” Langkah kaki Gissa semakin cepat saat Doni mengejarnya.

“Lepasin...!” Gissa berusaha berontak ketika Doni berhasil meraih tangannya.

“Gis, aku minta maaf! Kamu jangan kayak gini donk!”

Gissa menghentikan teriakannya. Dihadapannya, Doni menatap Gissa. Dengan segera, Gissa buang muka dan langsung mengalihkan pandangan pada area lapangan. Karena kebetulan, mereka ada di lantai dua di sekolah.

“Gis, aku tahu aku salah banget. Karena aku udah lupa sama tanggal jadian kita. Tapi apa kamu bakal marah terus cuma karena masalah sepele kayak gini?!”

Mendengar hal itu, Gissa semakin emosi. “Siapa bilang ini masalah sepele? Don, aku gak masalahin kamu lupa sama tanggal jadian kita. Tapi aku marah bukan karena itu! Aku marah karena kamu udah gak menghargai aku?!”

“Aku gak menghargai kamu apa? Udah lah Gis, kamu jangan terlalu mendramatisir. Kita bukan lagi main sinetron. Jadi gak perlu lah kamu perpanjangin masalah sepele kayak gini.”

Gissa menatap mata Doni dalam-dalam. “Don, kenapa sih kamu jadi kayak gini? Aku bisa ngerti kok kalau kamu juga punya temen dan saat itu kamu lagi bareng temen. Tapi itu bukan alesan kamu buat ngereject panggilan aku. Itu bukan alesan juga buat kamu matiin Hp kamu!”

“Gis, maafin aku. Sekali lagi aku minta maaf. Aku bukannya gak menghargai kamu. Tapi aku gak enak sama temen-temen aku yang lainnya. Dari rumah, kita semua udah diniatin untuk gak ada komunikasi sama pacar masing-masing. Pacarnya temen-temen aku bisa ngerti semua kok. Tapi kenapa kamu enggak? Jadi sekarang terserah kamu. Kamu gak mau maafin aku atau kamu mau diemin aku terus, yang jelas aku sayang banget sama kamu.”

Ini nih, kalimat terakhir yang diutarakan Doni gak mampu buat Gissa untuk terus tetap marah. Gissa menatap Doni lekat. Ia hapus kemarahan yang menempel di dalam hati. “Iya deh aku maafin. Tapi kamu jangan ulangin lagi, yah?!”


***


GISSA masuk ke dalam toilet cewek yang ada di sekolahnya. Saat membuka sebuah pintu wc, dari dalam Gissa melihat seorang cewek sedang duduk di atas closet sambil menangis.

“Alena? Ya ampun, Alena lo kenapa?!” spontan Gissa.

Alena yang terkejut dihadapannya ada Gissa, langsung menghapus air matanya dan keluar dari wc. Alena lalu menatap wajahnya di cermin dan segera mengambil bedak dan beberapa kosmetik untuk menutupi raut wajahnya yang sendu.

“Len, lo kalau ada masalah tuh cerita dong. Lo kenapa sih?!” Gissa penasaran.

“Gue gak apa-apa kok, Gis!” Alena mengelak.

“Sayangnya gue gak percaya. Len, kita udah sahabatan lama. Sejak kapan sih lo maen rahasia-rahasiaan sama gue. Gue lihat lo tuh tadi nangis!”

“Gis, Please! Lo jangan paksa gue buat cerita. Karena sekarang gue lagi gak mood buat cerita. Tolong lo ngertiin gue, ok?!” pinta Alena.

Gissa gak mungkin memaksakan rasa keingintahuannya tentang masalah Alena. Ia pun mengerti. Gissa lalu masuk ke dalam wc karena memang ia sudah tidak tahan lagi ingin buang air kecil. Saat keluar dari wc, Gissa masih melihat Alena menangis. Andai saja Gissa tahu permasalahan Alena, mungkin ia bisa Bantu. Tapi Alena tidak mau menceritakannya. Gissa pun jadi bertanya-tanya.

“Len, yakin lo gak apa-apa?!”

Alena mengangguk.

“Kalau githu, gue ke kelas duluan, yah?!”

Alena hanya bisa mengangguk. Dan saat Gissa akan berlalu, terdengar suara peluh Alena diiringi isak tangisnya yang masih terasa. “Gis, gue mohon lo jangan kasih tahu ini sama Maya dan Vanissa, yah?!” kini Gissa yang mengangguk.


***


SERING, kita tidak pernah tahu apa yang dirasakan oleh orang lain. Kita hanya bisa mengira, menebak, dan syukur-syukur perkiraan kita benar. Tapi sesungguhnya, manusia memiliki keterbatasan untuk dapat mengetahui apa yang orang lain pikirkan dan rasakan. Seperti yang Gissa rasakan sekarang. Ia masih bingung dengan sikap Alena. Apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu? Kalau harus membantu, Gissa tidak tahu harus bantu apa. Karena Alena tidak mau cerita tentang permasalahan yang sedang dialaminya.

Mungkin hanya Alena dan Tuhan yang tahu apa yang Alena rasakan. Dan saat kumpul bareng di rumah Vanissa, lagi-lagi Alena tidak hadir. Gissa benar-benar khawatir. Kepergoknya Alena yang sedang menangis di toilet sekolah adalah bukti nyata kalau Alena tidak dalam kondisi baik-baik. Amanat Alena yang menyuruh Gissa untuk merahasiakan tangis Alena di toilet terpaksa harus ia langgar.

“Tadi di toilet sekolah, gue mergoki Alena lagi nangis. Lo berdua ada yang tahu gak Alena kenapa?!” papar Gissa.

“Yah, palingan soal cowok, Gis!” Maya menebak.

“Tapi aneh banget. Kalau emang soal cowok, kenapa Alena gak mau ceritain masalahnya ke gue?!”

“Yah soalnya elo kan...!” Maya mengerem omongannya.

“Kenapa berhenti, May? Emangnya gue kenapa?!”

Maya menjauh dari Gissa. “Udah, lah! Gak penting!”

Gissa mendekat ke arah Maya. Maya memalingkan wajahnya. “Sejak kapan sih, May! Lo jadi gak peduli sama masalah yang lagi dihadepin sama salah satu di antara kita!”

“Gis, gue bukannya gak peduli, lagian Alena udah gede ini. Ngapain sih masih diurusin!” Maya membela diri. Sementara Vanissa hanya bisa bengong melihat Gissa dan Maya berdebat.

“Gue gak ngerti deh sama lo, May! Sebenernya lo tuh sahabatnya Alena atau bukan, sih?! Kok lo jadi kayak gini. Apa jangan-jangan elo yang jadi masalah Alena?”

“Maksud lo apaan Gis ngomong kayak githu?! Menurut lo, Alena sahabat lo?!” Maya balik bertanya.

“Jelaslah Alena sahabat gue. Dia tuh sahabat yang paling baik di antara kalian semua. Dia gak pernah bebanin masalah dia ke kita. Karena dia gak mau sahabatnya ikutan sedih!” papar Gissa.

“Lo ngomong kayak gini karena lo gak tahu apa yang udah dilakukan Alena!” timbal Maya.

Vanissa mendekat dan berusaha menghentikan perdebatan Gissa dan Maya yang bertopikkan Alena. “Stooopp... Apa-apaan sih kalian. Ini kamar gue, oke?! Jadi gue minta lo berdua harus ikuti peraturan gue. Termasuk jangan berdebat di sini! Dan lo, Gis! Sebaiknya lo gak perlu tahu deh apa masalah yang sekarang lagi dihadepin Alena!”

“Kenapa gue gak berhak tahu?! Van, memangnya lo tahu Alena kenapa? Lo juga tahu, May?” tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Gissa. “Kenapa kalian diem?!”

“Gis, kalau lo mau tahu masalah Alena, mendingan lo tanya aja langsung ke Alena. Kita gak punya hak buat cerita!” lanjut Maya.

Semuanya membuat Gissa menjadi semakin bingung. Ada apa dengan Alena? Ada apa pula dengan Maya dan Vanissa? Kenapa semuanya seakan berkonfrontasi untuk merahasiakan sesuatu hal yang seharusnya diketahui pula oleh Gissa. Kenapa semuanya meng-anak tirikan Gissa?


***


DUA hari kemudian...

“Duuuhh... Gissa mana, sih?! Kok jam segini belum dateng juga!!” Maya sudah gak sabar menunggu Gissa. Hari ini, Maya dan gank-nya yang lain sedang berkumpul di sebuah kafe.

Gak lama kemudian, Gissa datang sambil menggandeng Doni. “Aduuuhh... sorry yah gue telat!”

Maya dan Vanissa saling berpandangan. Sementara Alena terlihat cuek sambil mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan.

“Kok lo bawa Doni, sih?!” terdengar nada protes dari ucapan Maya.

“Oh, aku ganggu, yah?!” Doni tersinggung.

“Lo ada di saat yang gak tepat, Don!” ujar Vanissa.

“Lagian elo sih Gis, ngapain sih pake bawa Doni segala!” Alena kemudian.

“Kenapa sih kalian ini, kok pada aneh gini?!” Gissa membela diri.

“Ya udah, kalau githu aku balik aja yah, Gis! Anggap saja aku cuma nganter kamu ke sini!” ujar Doni.

“Nah, usul yang bagus tuh, Don! Sebaiknya lo pulang aja!” Maya terkesan tidak suka ada Doni di sini.

Gissa berusaha mencegah Doni pergi. Tapi Doni bersikukuh ingin tetap pergi. Hingga terdengar sebuah ucapan dari mulut Maya yang membuat Doni mengurungkan niatnya untuk pulang. “Kita bercanda kok, Don! Githu aja marah!”

“Iiiihh... kalian ini, kan kasihan Doni-nya tahuuu...!” timbal Gissa manja.

Doni dan Gissa lalu duduk. Suasana yang biasanya hangat terasa begitu berbeda. Maya dan Vanissa hanya sibuk berbisik-bisik. Sementara Alena hanya menyantap makanan dan minuman kafe.

“Kayaknya dari tadi gue sama Doni dicuekin, deh!” kata Gissa.

Maya lalu melihat ke arah jam tangannya. “Eh, kayaknya gue mesti balik deh. Udah malem nih!”

“Buru-buru amat, May! Santai aja kali. Baru jam setengah sembilan ini!” ujar Doni.

“Enggak ah, gue balik aja. Lagian gue gak nyaman sama suasananya.”

Perkataan Maya kali ini membuat Doni marah. “Kenapa sih kamu, May! Dari tadi nyindir aku terus. Kamu ada masalah sama aku? Kamu gak suka sama aku? Bilang, May!”

“Kok lo marah, Don?! Memangnya berhak lo marah? Setelah apa yang udah lo lakuin ke kita?” balas Maya.

Gissa semakin gak ngerti arah pembicaraan Maya. “Maksud lo apa sih, May? Memangnya apa salah Doni!”

“Lo mau tahu Doni salah apa?!” Maya geram.

“Udah dong, May!” Vanissa mencoba menahan.

“Dia ini, cowok lo ini. Yang elo bangga-banggain, ternyata dia gak lebih dari seorang bajingan...”

PLAK...

Sebuah tamparan melayang ke arah pipi Maya. Tamparan itu berasal dari tangan Gissa. “Lo kalau ngomong jangan asal yah, May?!”

“Gis, Lo bakal nyesel udah nampar gue!” Maya pun berlalu. Vanissa langsung mengejar Maya.


***


AIR mata Gissa jatuh saat mengingat kembali kejadian di kafe. Di depan cermin, Gissa menangis. Gissa tidak bisa terima Maya sudah menghina Doni. Gissa tahu Doni gak seperti itu, Gissa yakin itu. Semua yang dikatakan Maya itu gak bener. Doni bukan bajingan. Gissa mencoba mencari tahu dengan memikirkan maksud ucapan Maya. Kenapa Maya berkata seperti itu? Apa semua itu ada hubungannya dengan Maya? Apa dibelakang Gissa telah ada hubungan spesial antara Maya dan Doni? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat Gissa temukan jawabannya.

Hanya ada prasangka buruk yang kini menggerogoti hati dan pikiran Gissa. Gissa merasa sikap Maya di kafe itu seperti seseorang yang cemburu. Seperti seseorang yang iri melihat sepasang kekasih yang begitu serasi. Gissa merasa kalau Maya memendam perasaan yang berbeda kepada Doni.

Gissa tersadar. Bahwa sikap Maya akhir-akhir ini yang terkesan cuek itu ada sangkut pautnya dengan semua ini. Yah, diam-diam Maya memendam cinta kepada Doni.

Gissa lalu melihat sebuah bingkai foto yang memajang foto dirinya beserta Maya, Vanissa, dan Alena. Gissa lalu mengambilnya. Dan menatap lekat-lekat foto itu.

“Kenapa sih, May! Lo tega lakuin ini semua ke gue! Lo kan tahu, kalau Doni itu cowok gue. Kenapa lo mesti kayak gini! Gue pengen hubungan persahabatan kita tetap ada. Tapi kayaknya lo gak pengen itu! Maafin gue kalau harus mengakhiri ini semua, May!” isak tangis Gissa terdengar.

Foto beserta bingkainya pun tepat masuk ke dalam keranjang sampah saat Gissa melemparkannya.


***


GISSA memindahkan tasnya ke bangku Alena saat Maya dan Vanissa masuk ke dalam kelas.

“Van, lo pindah ke bangku gue, yah?! Gue udah gak nyaman duduk di situ!” mendengar ucapan Gissa, Vanissa lalu menatap Maya.

Maya tidak meladeni. Ia menganggap omongan Gissa itu hanyalah angin lalu. Vanissa lalu menghampiri bangku Maya. Dan duduk di samping Maya. Suasana tampak tegang. Keempat cewek yang terkenal kompak itu saling terdiam. Alena dan Vanissa yang berada dalam posisi netral pun tidak dapat mencairkan suasana menjadi lebih baik.

Gissa merasa kondisi seperti ini semakin membuatnya tidak nyaman. Ia pun memutuskan untuk keluar dari kelas guna menghindari pandangannya yang selalu terfokus pada Maya. Karena bangku Maya terletak di depan Gissa. Namun baru beberapa langkah saja Gissa berjalan, tiba-tiba Gissa terjuntai dan terkapar pingsan di atas lantai. Spontan teman-teman sekelas yang dekat dengan Gissa mengangkat Gissa dan membawanya ke ruang UKS. Maya yang semula kesal, mulai melunak dan ikut bersama Alena serta Vanissa menyusul Gissa yang digotong ke ruang UKS.



***


“GIS, lo gak apa-apa, kan?!” Samar-samar Gissa mendengar suara Vanissa.

Perlahan demi perlahan, Gissa membuka matanya. Pandangannya menyapu satu persatu orang yang ada di hadapannya. Gissa melihat ada Vanissa, Alena, dan Maya.

“Gue dimana?!” suara Gissa terdengar lemah.

“Lo ada di ruang UKS. Tadi lo pingsan, Gis!” jawab Vanissa.

“Muka lo pucat banget, Gis! Mendingan gue minta surat ijin ke guru piket, yah? Biar lo bisa pulang!” usul Alena.

Gissa mengangguk. Kepala Gissa terasa berat sekali. Saat akan beranjak, Gissa rapuh. Gak lama kemudian, Doni datang.

“Gis, kamu kenapa? Kamu gak apa-apa, kan? Aku antar kamu ke dokter, yah?!” ujar Doni panik.

“Gak apa-apa, aku cuma pusing aja. Semalem kurang tidur!”

“Ya udah, kalau githu aku anter kamu pulang, yah?!” Doni menawarkan.

Gissa mengangguk. Jauh dari pandangan Gissa dan Doni, Maya tampak tidak suka. Dengan cepat, Maya pergi. Alena yang mengetahui gerak-gerik Maya, langsung menyusul Maya.


***


GISSA duduk lemas di dalam mobil. Di sampingnya, Doni mengemudikan mobilnya. Wajah Gissa terlihat pucat sekali.

“Don, tolong berhenti dong, please!” pinta Gissa.

Doni menghentikan mobilnya. Gissa lalu keluar dari mobil dan berjalan mendekati pepohonan di pinggir jalan. Mengetahui hal itu, Doni menyusul Gissa. Gissa lalu menundukkan kepala dan membuka mulutnya lebar-lebar. Melihat Gissa muntah-muntah, Doni pun memijit leher Gissa.

“Udah Don, cukup!” Gissa menyuruh Doni berhenti memijit.

Lalu Doni memberikan sapu tangannya kepada Gissa. Gissa pun membersihkan mulutnya.

“Gis, kita ke dokter aja, yuk! Kamu tuh pucat banget!” Doni khawatir.

“Gak usah, aku udah gak apa-apa kok! Kepalaku udah agak mendingan. Mungkin efek dari muntah tadi!” ujar Gissa.

“Ya udah, kalau githu kita pulang aja, yah?!”

“Don, gimana kalau aku ke rumah kamu aja. Aku takut Mamaku khawatir. Kamu sendiri kan tahu Mamaku tuh cerewet banget. Aku udah gak apa-apa kok!”

Doni pun mengiyakan permintaan Gissa.


***


GISSA menyeruput segelas teh hangat. Di sampingnya, Doni membelai rambut Gissa.

“Gimana Gis, udah baikan?!” Doni memastikan keadaan Gissa.

“Udah kok. Mungkin karena udah dimuntahin jadi gak terlalu pusing!” jawab Gissa. “Don, sebenernya ada yang mau aku omongin ke kamu!”

“Emangnya mau ngomong apa sih, Gis?!” Doni bertanya lagi.

Gissa menghela nafas panjang. Ia mencoba untuk mengatakan sesuatu yang ingin ia sampaikan. Dan akhirnya, Gissa pun memberanikan diri untuk bicara. “Sebenernya... sebenernya....”


TING TONG...

Gissa menghentikan ucapannya karena bel di rumah Doni berbunyi menandakan ada tamu. Doni pun membukakan pintu. Dan saat pintu terbuka, seorang cewek berdiri dengan mata berkaca-kaca. Gissa mengenal cewek itu. Dia adalah Alena.

“Alena?!” Gissa excited melihat Alena datang ke rumah Doni.

Gissa menangkap ekspresi wajah Alena yang sedang dalam keadaan tidak baik. Sepertinya ada keresahan yang berusaha ditutupi oleh Alena.

Alena langsung memeluk Gissa. “Gis, tadi gue ke rumah lo! Tapi kata nyokap lo, Lo belum nyampe ke rumah. Lo gak apa-apa kan. Gue cemas banget, Gis! Makanya gue nyari lo ke sini!”

“Oh, kirain apaan. Soalnya tadi gue minta ke Doni supaya gak bilang ke nyokap gue. Lo tahu sendiri kan nyokap gue itu cerewetnya kayak apa. Makanya gue ke rumah Doni aja!” ungkap Gissa.

“Syukur deh, kalau lo gak apa-apa. Gue panik tahu gak nyariin lo. Ya udah deh kalau githu gue balik duluan, yah?!” ujar Alena.

“Bareng aja deh, gue juga mau pulang. Takut nyokap gue nyariin!” Gissa lalu pamit kepada Doni. “Don, aku pulang bareng Alena aja, yah?!”

“Oh iya, Gis! Tadi kamu mau ngomong apa?!” Doni teringat akan ucapan Gissa yang terpotong.

“Ntar aja deh. Gak penting, kok!” kata Gissa.


***


GISSA dan Alena pun melenggang keluar meninggalkan rumah Doni. Tidak jauh dari sana ada sebuah taksi. Mereka pun menaiki taksi yang sama. Di dalam taksi, Gissa mengamati Alena.

“Len, lo agak gemukan sekarang!” ujar Gissa.

“Ah masa sih, perasaan enggak deh! Tapi gak tahu sih. Soalnya akhir-akhir ini nafsu makan gue bertambah. Kalau githu mulai sekarang gue mau diet lagi, akh!” papar Alena.

Gissa melihat Alena tidak bisa diam sambil mengodok saku dan tasnya. “Kenapa sih, Len? Heboh banget!”

“Dompet gue gak ada. Kayaknya jatuh di rumah Doni, deh!” ungkap Alena.

“Gue coba telpon Doni, yah?!”

“Eh, gak usah. Gak enak ngerepotin. Gue berhenti di sini aja deh mumpung gak terlalu jauh dari rumah Doni. Gue bisa jalan kaki kok. Lo gak apa-apa kan pulang sendirian?” tanya Alena.

“Gak apa-apa!” jawab Gissa.

Lalu Alena turun di pinggir jalan saat taksi berhenti.


***


JUMAT malam di kafe.

“Aku gak tahu kenapa semuanya harus jadi kayak gini! Sebenernya aku gak mau...” ujar Alena dibarengi dengan isakan dan tetesan air mata. “Pokoknya kamu harus tanggung jawab. Aku gak sanggup kalau harus nanggung semuanya.” Alena melanjutkan ucapannya meskipun dengan nafas terpatah-patah.

“Len, yang kita lakuin itu cuma have fun aja. Kamu hadir di saat aku lagi jenuh dengan hidup aku. Tapi sekarang aku dihadepin dengan kenyataan dimana aku harus pertaruhin masa depan aku, aku harus relain status aku!” ujar cowok dihadapan Alena.

“Terus aku harus gimana?!” Alena semakin meradang. Air matanya semakin deras.

Cowok itu memukul meja. Alena tersentak kaget. Suara cowok itu semakin meninggi.

“Bisa gak sih kamu gak nangis. Kita bisa duduk sama-sama mikirin ini semua. Ada kok salah satu jalan yang bisa kita ambil kalau emang kamu mau tanpa harus ada satu pun yang tahu. Kamu ngerti kan maksud aku?”

“Gak, pokoknya aku gak mau ikutin saran kamu yang itu. Itu malah akan menambah dosa kita!”

“Gak ada jalan lagi, Len!”

“Pokoknya aku gak mau...!” Alena berdiri dari duduknya dan berlari keluar dari kafe.


***


“HALLO?!!!” Gissa terdiam sesaat mendengarkan suara dari dalam Hp. Gissa berusaha mencerna setiap kalimat yang dilontarkan oleh orang yang menelponnya. Saat itu juga Hp Gissa terjatuh bersamaan dengan air mata yang terurai di pipinya. Tubuh Gissa semakin menyusut hingga terduduk di atas lantai.

“Ada apa, Gis?!” Spontan Mama berlari mendekat dan memeluk Gissa.

Gissa hanya bisa menangis. Semakin keras dan histeris. “Gak mau... aku gak mau, Ma! Aku gak mau kehilangan diaaa...”

“Gissa tenang, istighfar! Cerita sama Mama ada apa, sayang!”

“Gak mau, Gissa gak mau kehilangan dia, Ma...”

Mama memeluk erat Gissa untuk menenangkan anak semata wayangnya itu. Wajah Gissa bersembunyi dipelukan Mamanya sambil meneriaki kalimat yang sama.


***


SEBUAH taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah berbendera kuning. Dari dalam taksi, keluar Gissa dan Mama dengan dibalut pakaian rapi dan berkerudung hitam. Gissa semakin tak kuasa saat bendera kuning itu terlihat jelas oleh kedua sudut matanya yang berlinangan air mata. Mama menuntun Gissa masuk ke dalam rumah itu. Dari dalam, tampak Vanissa dan Maya duduk berdampingan sambil mengusap-usap matanya dengan tisu. Meski sudah terhapus, tetap saja pipi mereka masih basah karena air mata mereka terus terurai entah berhenti sampai kapan.

Sebuah jasad terbungkus kain kafan dikelilingi oleh orang-orang yang tak rela kehilangannya. Gemuruh suara tangis dalam suasana haru itu semakin membludak. Gissa mendekat dan melihat jasad orang yang ia sayangi. Terlihat sebuah wajah yang pucat pasi namun masih tetap cantik. Yah, itulah saat dimana Gissa melihat wajah Alena untuk yang terakhir kalinya. Gissa tak kuasa menahan rasa sedihnya hingga ia terjuntai dan tak sadarkan diri.

Innalillahi wa innailaihi rozi’un.


***


SAAT terberat yang dirasakan oleh seorang manusia adalah saat dimana kita harus rela melepas kepergian orang yang kita sayangi. Kita tidak bisa berbuat apa-apa selain ikhlas dan mendoakannya. Menerima dan tetap menjalani hidup walau meski tanpa dia adalah satu-satunya cara terbaik karena bagaimana pun kondisi kita, selagi kita masih bernafas dan hidup di dunia ini, waktu akan tetap berjalan.

Hidup memang ada masanya. Begitu banyak orang yang datang dan tidak sedikit pula orang yang pergi meninggalkan kita. Meninggalkan dan ditinggalkan, bersama dan sendiri, itu semua adalah wajar dan harus terjadi dalam hidup ini. Karena seperti sinar matahari yang kadang terasa hangat. Tapi juga kadang terasa panas. Hangat adalah sebuah tanda bahwa hidup memiliki satu kenyamanan dan kebahagiaan dikala kita berada di tempat yang kita inginkan serta ada bersama orang-orang yang kita harapkan. Dan panas adalah sebuah penghadapan yang harus kita lewati meski hanya dengan kepalan tangan saja.

Itu semua adalah masa dimana setiap yang hidup akan mati. Porsi ini adalah porsi yang Tuhan berikan rata kepada setiap umatnya. Hanya saja tinggal menunggu waktu. Karena tak ada yang abadi di dunia ini. Kehilanganan orang yang kita sayangi pasti akan memberikan banyak perubahan dalam hidup ini. Dan perubahan itu sendiri lah yang akan selalu abadi. Karena akan terus bekerja merubah dan berubah secara terus menerus. Tapi satu yang tidak akan berubah dan hilang di hati Gissa. Yaitu kebersamaan saat bersama Alena.


***


“’GISSA, maafin aku!’, itu kalimat terakhir yang diucapkan Alena sebelum Alena meninggal!” tutur Mamanya Alena.

Di sebuah ruang tamu di rumah Alena tampak Gissa, Vanissa dan Maya duduk mendengarkan cerita Mamanya Alena. Dua hari setelah Alena meninggal, Mamanya Alena sengaja mengundang Gissa, Vanissa dan Maya untuk berbincang-bincang.

“Tabrak lari itu sudah merenggut dua nyawa sekaligus!” Mamanya Alena masih bercerita.

Gissa, Vanissa dan Maya saling berpandangan. Merenggut dua nyawa? Berarti ada satu korban lagi? Pertanyaan muncul bertubi-tubi di pikiran Gissa, Vanissa dan Maya.

“Ternyata Alena sedang hamil tiga bulan! Tante gak tahu apa sekarang tante harus marah, kecewa, atau sedih?! Tapi nasi sudah menjadi bubur. Tante cuma bisa ikhlas saja menerima semua ini!”

Tiba-tiba Maya berkata lantang. “Pasti Doni yang menghamili Alena kan, Tante?!”

Gissa terkejut mendengar hal itu. “Maksud lo apaan, May?! Jangan asal deh kalau ngomong!”

“Gue gak asal ngomong, Gis! Waktu itu, saat kita bertiga maen ke mall, gue mergoki Alena lagi jalan sama Doni. Makanya gue langsung ngajak lo sama Vanissa pulang. Terus saat gue minta penjelasan ke Alena, Alena bilang kalau dia emang ada hubungan sama Doni. Kita sempat bertengkar. Sampai-sampai rok Alena robek. Dan dia sms ke elo. Lo inget, gak?!”

“Maya bener, Gis!” Vanissa kemudian, “Harusnya lo baca setiap tanda-tanda itu. Harusnya lo tahu!”

Air mata Gissa jatuh. “Gimana gue bisa tahu, Alena gak pernah ceritain semua itu. Bahkan gak ada tanda-tandanya Doni selingkuh sama Alena!”

“Gis, kadang turun hujan gak harus diawali dengan suara petir, kan?! Gak semuanya harus diungkapkan. Coba kalau lo lebih buka mata lo dengan sekeliling lo pasti lo akan tahu. Coba aja lo bisa ngebaca itu semua saat Alena tetep ngotot rahasiain pacarnya ke elo. Sementara gue dan Vanissa tahu. Saat akhir-akhir ini gue sering marah ke Doni waktu lo bawa dia ke hadapan kita. Andai aja lo bisa mengartikan semua itu, Gis!” ujar Maya.

Mamanya Alena menengahi perdebatan Gissa, Vanissa dan Maya. “Mungkin ini bisa meyakinkan kamu, Gis!” Mamanya Alena memberikan secarik kertas kepada Gissa. “Atas nama Alena, Tante minta maaf yang sebesar-besarnya!”


***


GISSA masuk ke dalam kamarnya dengan lemas. Kenyataan yang ia dapatkan, suara-suara yang ia dengar, bahkan semua argumen-argumen yang ia terima seakan menyudutkan satu nama sebagai satu-satunya orang yang paling bersalah dari semua ini. Bersalah kepada Alena, bersalah kepada Gissa, bahkan bersalah kepada semua yang terjadi saat ini. Satu nama itu adalah Doni.

Gissa sangat tidak percaya. Sosok Doni. Seorang cowok yang baik tapi sebenarnya jahat. Atau penjahat yang baik. Entahlah. Seorang cowok yang terlampau tampan untuk dibenci. Prioritas utama dalam hidup Gissa. Orang yang paling Gissa idolakan dan kagumi. Cowok yang selalu menemani hari-hari Gissa. Serta cowok yang berstempel pacar Gissa.

Gissa menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk tidak mempercayai semua itu. Sebuah moment mengingatkan Gissa. Gissa ingat kalau Mamanya Alena memberikan secarik kertas kepada Gissa dan mengatakan sebuah ucapan, “Mungkin ini bisa meyakinkan kamu, Gis!”. Yah, kertas itu seakan satu-satunya kunci untuk menguak misteri kematian Alena dan teror-teror beberapa presepsi yang memberikan kesimpulan bahwa Alena dan Doni telah mengkhianati Gissa.

Gissa mengodok sakunya dan membuka secarik kertas yang terlipat. Matanya berjalan mengikuti kalimat-kalimat yang berjajar rapi. Yah, sebuah tulisan milik Alena.


Semakin hari, aku semakin sadar. Bahwa apa yang aku lakukan ini adalah kesalahan besar. Tapi entah mengapa, kesalahan ini terlalu indah untuk aku nikmati. Meski harus berpacu dengan keadaan yang mengharuskan aku untuk menyembunyikan rapat-rapat semua ini, tapi seperti pepatah mengatakan. Sepandai-pandainya bangkai disembunyikan. Lama-lama akan tercium baunya. Dan pepatah itu kini menimpa aku. Satu persatu sahabatku tahu tentang rahasia ini.

Aku merasa sangat berdosa kepada Gissa. Karena sudah lancang meminta sebagian hati Doni meski Gissa tidak tahu. Doni yang sangat Gissa sayangi. Doni yang sangat Gissa cintai. Bahkan Doni yang selalu Gissa banggakan didepan aku, Vanissa dan Maya. Kadang aku selalu iri. Gissa bisa menggandeng Doni dengan penuh rasa bangga. Sementara aku, harus puas bersama Doni dengan menyembunyikan banyak misteri.

Aku sudah berkorban banyak. Aku sudah bersabar untuk menerima semua kenyataan ini. Aku mau menerima semua ini meski hanya berstatus selingkuhan. Dan bahkan aku rela kasih semua yang aku punya buat Doni. Itu semua aku lakukan karena aku sayang sama Doni.

Dan kecelakaan ini sangat tidak aku inginkan. Jujur aku belum siap jadi seorang ibu. Karena aku masih terlalu muda. Aku juga malu. Malu sama keluarga aku, malu sama sahabat-sahabat aku, dan juga malu sama diri aku sendiri.

Kalau saja aku bisa jaga diri aku baik-baik. Semua ini gak akan terjadi. Kalau aja aku lebih mementingkan keperawanan, aku gak akan seperti ini.

Mama, maafin Alena. Alena bukan anak yang baik. Alena gak bisa jaga kehormatan keluarga. Karena kehormatan Alena sendiri sudah hilang. Dulu Mama pernah bilang. Kalau keperawanan itu sangat penting. Karena sebagai hadiah untuk suami disaat menikah kelak. Tapi Alena gak denger omongan Mama. Maafin Alena yah, Ma?!

Papa, maafin Alena. Alena udah ngancurin semua kepercayaan Papa selama ini. Alena udah bikin malu nama keluarga. Karena sekarang Alena sedang mengandung cucu Papa dari hubungan gelap Alena dan Doni.

Gissa... maafin gue, Gis! Gue bukan sahabat yang baik buat lo. Karena gue udah nusuk elo dari belakang. Gue udah bohongin lo. Gue udah khianatin lo. Gue udah hancurin semua kepercayaan lo sama gue. Dan gue udah kecewain lo. Gue nyesel banget, Gis! Andai aja waktu bisa diulang, gue gak akan pernah mau ngebuka kesempetan buat Doni deketin gue. Gue khilaf, Gis!

Aku gak tahu lagi harus gimana. Tolong aku... ampuni aku... maafin aku...


Gissa berhenti membaca. Air matanya jatuh. Sekarang entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hatinya. Gissa cuma bisa menangis. Hanya isakan yang terdengar. Selebihnya adalah sunyi.


***


HIDUP memang gak bisa ditebak. Begitu banyak pengalaman yang Gissa dapatkan. Dan semuanya itu diluar dugaan Gissa. Gissa harus berbesar hati untuk melepaskan cinta dan sahabat. Serta berusaha memperbaiki hubungan persahabatannya dengan Maya yang sempat renggang karena dibumbui oleh kecurigaan dan amarah. Gissa jadi ingat saat ia sedang ada di rumah Doni. Gissa hampir menanyakan kecurigaannya bahwa Doni ada hubungan dengan Maya. Tapi itu tidak terwujud karena pada saat itu muncul Alena yang berdalih mencari Gissa. Gissa mulai berpikir. Apa saat itu Alena memang mencari Gissa atau sebenarnya Alena memang sengaja datang ke rumah Doni untuk menemui Doni? Tapi berhubung ada Gissa, Alena jadi membelokkan kenyataan. Tapi itu semua sudah Gissa lupakan. Gissa kini sudah bisa menerima semuanya. Memaafkan kesalahan Alena, menutup hati untuk Doni, gak lupa mengakui kesalahpahaman dan meminta maaf kepada Maya, serta kembali merajut benang persahabatan dengan Maya dan Vanissa. Gissa kini bisa belajar dari pengalaman. Bahwa sesuatu yang terlihat baik. Belum tentu selamanya akan baik. Gissa juga telah hilang komunikasi dengan Doni. Karena setelah jasad Alena terkubur, sosok Doni seakan lenyap dari hidup Gissa. Bahkan saat Gissa datang ke rumah Doni untuk menemui Doni, Mamanya Doni tidak mengijinkan Gissa untuk bertemu dengan Doni. Entah apa yang terjadi dengan Doni. Tapi, dari pada hubungan Gissa dan Doni menggantung dan tak pasti, maka satu-satunya cara yang Gissa lakukan adalah menulis surat putus dan menitipkannya kepada Mamanya Doni. Mudah-mudahan dengan cara itu Doni bisa tahu kalau gak akan ada lagi cinta Gissa buat Doni.


***


SEBUAH pintu kamar terbuka. Terlihat seorang wanita separuh baya masuk ke dalam kamar tersebut. Dari dalam kamar, tampak seorang cowok dengan rambut acak-acakan. Kondisinya serupa dengan kamarnya yang berantakan. Cowok itu menunduk menyembunyikan wajahnya. Kedua tangannya melipat pada kaki dengan menggenggam secarik kertas lusuh. Ia terduduk di atas lantai.

“Sayang, makan dulu, yuk?!”

Cowok itu terdiam. Perlahan demi perlahan ia mengangkat wajahnya. Menatap ke arah wanita separuh baya itu. Tapi itu hanya sesaat. Karena dia kembali menyembunyikan wajahnya.

“Mau Mama suapin?!”

Cowok itu mengangguk. Wanita separuh baya itu lalu menyuapi cowok itu sesuap demi sesuap. Sambil mengunyah makanan dengan perlahan, mata cowok itu seakan kosong. Kondisi itu membuat wanita separuh baya itu sedih. Sambil berlinangan air mata, wanita separuh baya itu berkata dalam hati.

“Doni, kenapa kamu jadi kayak gini?!”

...

SEKIAN

Jumat, 25 Februari 2011

Cerpen "Ady", By Tjandra Utomo


“DAN juara umum kelas dua semester ini jatuh kepada Adythia Atmadja dari kelas 2 IPA 3!” Suara lantang Pak Bambang selaku kepala sekolah yang menyebutkan nama Ady di sambut meriah oleh tepuk tangan semua orang yang mengikuti upacara bendera.
      Ady yang berdiri di barisan ke empat terkejut saat mendengar namanya disebutkan. Sebenarnya, hal seperti ini sudah biasa terjadi pada Ady. Setiap semester ia selalu mendapat juara umum. Dan Ady pun segera berjalan menghampiri Pak Bambang karena ia diminta untuk maju ke tengah lapangan dan mendapatkan beasiswa dari sekolah atas prestasi yang telah ia peroleh.
      Tepuk tangan masih bergemuruh di seantero lapangan. Wajah bangga teman-temannya dan guru-guru begitu terpancar jelas saat Ady menerima beasiswa yang diserahkan langsung oleh Pak Bambang.
      Pada barisan paling depan, di jajaran murid-murid kelas satu, terlihat seorang cewek imut bertepuk tangan dan mengelu-elukan nama Ady dengan begitu semangat. Cewek itu tidak peduli kalau sebagian dari teman-temannya mencibir karena sikapnya yang terlihat kecentilan.
      “Idih semangat banget! Kayak yang kenal aja sama kak Ady!” kritik cewek yang berdiri tepat di sampingnya.
      Cewek imut itu hanya bisa cuek mendengar perkataan salah satu temannya. Ia malah semakin keras meneriaki nama Ady. Suaranya sampai terdengar oleh semua yang mengikuti upacara. Sehingga, ia pun di soraki oleh semua orang karena sikapnya yang berlebihan.

***

“KAK Ady!” Sebuah  suara  cempreng  memanggilnya  sehingga  membuat  Ady  menghentikan  langkahnya  dan  membalikkan badan untuk mencari dari arah mana suara tersebut berasal.
      Ady melihat seorang cewek imut berponi dan berkawat gigi berlari kecil ke arahnya. Setelah sampai dihadapan Ady, cewek itu menghela nafas panjang sebelum mengucapkan sepatah kata.
      “Ada apa, yah?” tanya Ady.
      Cewek itu masih mengatur nafasnya supaya bisa lebih santai. “Em... bisa minta waktunya sebentar?” ucap cewek itu. Walaupun masih dengan nafas ngos-ngosan.
      Ady heran dengan sikap cewek imut itu. Gak biasanya ia begitu pentingnya sehingga ada seseorang yang meminta sedikit waktunya. Ady penasaran dengan cewek itu. Maka niatnya menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan, terpaksa ia batalkan dan berjalan menuju kantin untuk berbicara dengan cewek itu.

      Sampai di kantin, cewek itu langsung memperkenalkan diri. “Kenalkan, kak! Nama aku Bunga! Aku kelas satu tujuh!” Bunga menjabat tangan Ady.
      “Ngomong-ngomong ada apa, yah?” tanya Ady.
      Bunga tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang berbehel. Sebenarnya Bunga cantik sekali. Namun Ady sama sekali tidak tertarik. Bunga juga sepertinya ramah. Karena dari tadi saat berbicara dengan Ady, wajah Bunga terlihat bersahabat sekali.
      “Aku mau ngucapin selamat buat kak Ady atas prestasi yang kakak raih!” Bunga tersenyum semakin membuat setiap lekuk wajahnya terlihat semakin cantik.
      Mendengar Bunga mengucapkan selamat, Ady pun tidak lupa untuk berterima kasih. Baru kali ini ia diberi ucapan selamat oleh adik kelasnya. Sebelumnya, Ady hanya diberi selamat oleh teman-teman seangkatannya.
      “Oh iya, kak! Aku boleh minta nomor telpon kakak gak?” ujar Bunga tanpa malu-malu.
      “Buat?” Ady mempertanyakan.
      “Em... buat... buat...!” Bunga tampak berpikir.
      “Begini saja. Sebelumnya kan kita belum saling kenal. Dan ada baiknya kalau kita batasin aja hubungan kita ini sebagai Kakak kelas dan adik kelas.” Tutur Ady. “Oh iya, terima kasih udah mau kenal sama aku. Tapi, lebih baik lagi kalau kamu gak usah kenal lagi sama aku.” Ady melangkah pergi.
      Bunga tertegun mendengar perkataan Ady. Matanya sedikit berkaca-kaca.

***

ADY merasa ada seseorang yang membuntutinya. Dari tadi perasaan itu terus mengganggu sepanjang perjalanan Ady menuju rumah. Dan ternyata memang benar. Seseorang mengikutinya dari belakang. Ady kenal orang itu. Dia adalah Bunga. Meskipun Bunga berusaha untuk bersembunyi saat Ady menoleh ke belakang, tapi aksinya tetap diketahui Ady. Sehingga Bunga pun kepergok oleh Ady.
      “Eh, Kak Ady!” Bunga terlihat malu.
      “Lo ngikutin gue, yah?!”
      “Enggak, siapa bilang! Orang aku mau pulang, kok! Kayaknya kita searah deh. Bareng aja, Kak!” tutur Bunga.
      Ady mengamati tingkah Bunga yang membuatnya merasa terganggu. Ady sangat tidak suka dengan kehadiran Bunga yang tiba-tiba dalam hidupnya.
      “Gimana kak, mau bareng gak?” ajak Bunga.
      Belum sempat Ady jawab, tidak lama dari itu sebuah mobil berhenti tepat di dekat Ady dan Bunga berdiri. Kaca mobil terbuka. Terlihat sosok Rasti yang sedang duduk di depan setir mobil.
      “Hai, Dy! Mau bareng, gak?” sapa Rasti.
      Kehadiran Rasti membuat Ady senang. Karena ia merasa kalau Tuhan telah memberikan pertolongan kepada Ady berupa sosok Rasti.
      “Hai, sayang!” sapa balasan Ady membuat Rasti heran.
      “Hah, sayang?” pikir Rasti dalam hati.
      “Siapa, kak?” tanya Bunga.
      Ady pun mulai mengenalkan Rasti. “Oh iya, kenalin sayang! Ini Bunga adik kelas aku. Dan Bunga, ini Rasti. Dia... dia... pacar aku!” Rasti terkejut bukan kepalang saat mendengar Ady berkata seperti itu.
      Rasti melotot ke arah Ady. Sementara Ady mengedipkan matanya seakan meminta Rasti untuk nurut saja. Seakan mengerti, Rasti hanya tersenyum. Dan mengulurkan tangannya dari dalam mobil.
      “Hai, Bunga!” uluran tangan Rasti tidak disambut hangat oleh Bunga.
      “Gimana, Bunga? Lo mau ikut bareng, kita? kan kita searah!” Ady berbasa-basi.
      Raut wajah Bunga yang semula ceria berubah seratus delapan puluh derajat menjadi berbanding terbalik. “Enggak deh!” ucapnya jutek.
      Mendengar hal itu, Ady segera masuk ke dalam mobil Rasti dan mobil pun pergi meninggalkan Bunga.
      Bunga hanya bisa terdiam. Lagi-lagi matanya berkaca-kaca. Ia memaki dirinya karena sudah mempermalukannya untuk yang kedua kali. “Rese!” makinya.

***

“LO gak boleh githu dong, Dy! Kasihan kan si Bunga!” kata Rasti di dalam mobil.
      “Biarin, lah! Males gue sama dia!” ucap Ady.
      “Lo tuh hidup di dunia gak sendirian. Jadi coba deh lo bersosialisasi sama orang-orang baru. Gue perhatiin dari dulu, kayaknya temen lo tuh cuma gue aja, deh! yah dulu ada sih Narya sama Maurin! Tapi buktinya sekarang mereka gak kontak lo lagi, kan?! Itu karena lo sangat tertutup. Untung gue masih pengen temenan sama lo. Coba kalau enggak! Mau hidup sama siapa, lo!” papar Rasti.
      Entah mengapa perkataan itu sangat menyakiti hati Ady. Ady terdiam. Ia merasa sesuatu menyesak di tenggorokannya. Ia merasa Rasti keterlaluan berkata seperti itu.
      Rasti menangkap ekspresi yang berbeda di raut wajah Ady. Rasti merasa bersalah telah berkata seperti itu. “Eh, omongan gue nyinggung elo, yah?! Aduh sorry, deh! gue gak bermaksud.”
      “Gak apa-apa. Emang itu kenyataannya! Kayaknya lo bener, Ras! gue emang gak bisa bersosialisasi sama orang-orang. Gue gak kayak Narya, gue gak kayak Maurin, dan gue juga gak kayak elo. Harusnya sejak dari dulu gue nanyain satu hal sama lo. Kenapa sih lo masih pengen temenan sama gue? Sementara Narya dan Maurin, mereka udah males buat ngobrol sama gue. Gue kan cuma cowok kuper, Ras!”
      Rasti masih menyetir mobilnya. Mendengar Ady merendah seperti itu, Rasti merasa iba. “Lo kok ngomong kayak githu sih! Buat gue, lo tuh salah satu orang yang spesial di hati gue. Lo orang pertama yang gue kenal di luar keluarga gue. Gue sama lo udah kenal dari dulu. Makanya gue sampai heran kenapa Narya sama Maurin jadi gak terlalu akrabm lagi sama lo. Padahal menurut gue, lo tuh sebenarnya orangnya asyik, kok! Sumpah deh!”
      Ady menatap sosok cewek di sampingnya. Gak ada alasan lain lagi buat gak jatuh cinta sama orang yang sudah ia kenal dari dulu ini. Meskipun ia dan Rasti akrab saat awal-awal SMP. Tidak seperti Narya dan Maurin yang sudah ia kenal sejak usia balita. Walaupun sekarang Narya, Maurin, dan Ady renggang karena perbedaan hobi. Tapi dalam hati masing-masing pasti terbesit keinginan untuk bisa seperti dulu lagi.
      “Mungkin bagi lo, gue adalah salah satu orang yang spesial di hati lo, Ras! tapi buat gue, lo tuh satu-satunya orang yang spesial di hati gue. Gue sayang banget sama lo, Ras!” ujar Ady dalam hati.

SEKIAN